Mereka yang Tak Kasat Mata

Kredit Foto: Dokumen Pribadi

Rabu 9 Oktober 2019, harusnya hajatan kami (saya bersama kakak saya dan kawannya) sekadar membeli kain di Pasar Tanjung, tapi terasa kurang nikmat bila terlanjur keluar tanpa mampir ngopi. Mampirlah kami pada satu tempat lesehan pinggir jalan, bukan warung permanen, bahkan si empunya dagangan sekadar menggelar karpet dan beberapa barang dagangan di atas sepeda motor yang distandar tengah. Dua gelas teh hangat dan satu cangkir kopi hitam saya pesan sebagai teman perbincangan kami di lesehan emperan toko.

Sambil duduk dan menunggu pesanan, saya mengamati keadaan sekitar. Tepat di samping saya, seorang anak mungil tengah tertidur lelap tanpa bantal dan hanya diselimuti kain sarung. Entah, pandangan saya terpaku pada si kecil ini. Saya memandangi wajah polos yang tampak dari lelapnya si kecil tertidur. Entah mimpi seperti apa yang tengah menghampiri tidurnya.

Tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, di dalam pasar saya menjumpai banyak hal serupa. Kegiatan para pedagang yang bermacam-macam: ada yang asik ngobrol dengan sesama pedagang, ada yang tertidur dalam keadaan duduk, ada pula yang sibuk menata barang yang akan dijual. Terekam jelas dalam memoar saya, lengkap dengan aroma pasar tradisional yang khas dan tidak asing lagi bagi hidung saya.

Kalau boleh jujur, hal yang saya jumpai itu mengantarkan saya pada memoar masa kecil saya. Ya, saya tidak berasal dari keluarga ekonomi tinggi yang dari lahir sudah merasakan komplek khas perumahan elite. Masa kecil saya hidup dalam perkampungan padat penduduk yang kebetulan tidak jauh dari pasar tradisional. Masyarakat yang menggantungkan hidupnya di pasar adalah wajah yang saya temui setiap hari, pelataran dan sudut-sudut pasar sudah akrab betul dengan pijakan kaki saya.

Mari saya ajak kawan pembaca mengingat: kapan terakhir kawan-kawan mengunjungi pasar? Seberapa sering kawan-kawan mengunjungi pasar terdekat dengan kediaman kawan-kawan? Masihkah pasar tradisional menjadi opsi pertama ketika kawan-kawan hendak membeli barang?

Kemudahan akses masyarakat sedikit banyaknya memengaruhi intensitas masyarakat mengunjungi pasar tradisional. Masyarakat tak lagi tergantung pada sektor pasar tradisional dalam memenuhi kebutuhan. Dapat diamati dari kebiasaan masyarakat hari ini: tanpa harus pergi ke pasar tradisional, masyarakat bisa saja memenuhi lauk-pauk dan sayur-mayur yang setiap pagi diperdagangkan tukang sayur keliling. Tidak berhenti di situ, masyarakat bisa saja memesan kepada tukang sayur bahan makanan apa yang akan mereka masak keesokan harinya. Belum lagi barang-barang lain yang bisa saja didapat dari online shop.

Sejak kepindahan keluarga saya ke daerah yang sekarang saya tempati, rasanya sudah jarang sekali saya mengunjungi pasar. Sesekali mungkin iya, bila memang ada barang yang benar-benar tidak ditemui di beberapa toko sekitar. Itulah yang menarik dari pasar, semuanya bisa ditemukan disana.

Tidak berhenti pada pengertian tempat bertemunya penjual dan pembeli, lebih dari itu, pasar adalah kenyataan. Sayangnya, sedikit sekali yang sudi mengamati kehidupan di dalamnya.

***

(MSS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kajian Historis Bandit-bandit di Jawa 1850-1942

Seni Hidup Crazy Ala Sofyan Sauri

Saya Kembali