Pagi dan Refleksi

Kredit Gambar: google.com

Saya, sebagai penulis hendak mengingatkan bahwa tulisan di bawah ini bukanlah tulisan-tulisan heroik seperti yang kawan-kawan harapkan.90% dari tulisan ini adalah curhatan saya dan pemaknaan saya terhadap apa yang saya alami. Untuk mencari tulisan yang lebih substansial kiranya kawan-kawan bisa mencari tulisan lain yang lebih wow.

Pagi ini saya dibangunkan oleh kawan saya jauh lebih pagi daripada biasanya. Harusnya perkuliahan kami dimulai pada pukul 08.00 WIB. Mulanya saya begitu tidak sadar ketika kawan saya itu mengetuk pintu kamar saya, tanpa berpikir panjang saya ambil saja handuk dan langsung ke kamar mandi.

Karena saya tidak mungkin menceritakan apa saja yang saya lakukan di dalam kamar mandi, maka saya akan menceritakan ketika saya selesai mandi. Keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamar, saya mencoba menyalakan hp saya yang sedari subuh sedang saya isi baterainya. Saya tercengang ternyata jam di hp saya menunjukkan pukul 07.19 WIB. Betapa kesalnya ketika menyadari berkurangnya jam tidur saya, hampir 1 jam dari yang sudah saya agendakan.

Mau gimana lagi, hidup tetap harus dilanjutkan. Saya memutuskan untuk membuat kopi sambil menunggu jam keberangkatan. Sial, ketika menengok persediaan logistik ternyata gula yang saya simpan tersisa sedikit. Langsung saja saya ambil beberapa recehan yang tergeletak di atas meja, lalu saya niatkan untuk membeli gula. Berjalanlah saya menuju toko di ujung gang depan kontrakan saya.

Rasanya baru kali pertama ini saya mengakrabkan diri dengan lingkungan pagi sekitar kontrakan. Benar saja, banyak hal yang saya jumpai, mulai dari kelompok ibu-ibu yang asik ngerasani tetangga, sampai bapak-bapak yang mengendarai motor dengan membonceng anaknya yang masih mengenakan seragam merah putih itu. Ditambah lagi kicauan burung peliharaan tetangga yang semakin hari semakin gacor saja.

Usai membeli gula, saya kembali ke kontrakan dan mulai merebus air dalam panci elektrik usang milik saya. Entah rasa kesal saya mendadak hilang, menguap bersama dengan uap air yang mengisyaratkan air yang saya rebus mulai mendidih. Sambil menyeduh kopi, saya ambil sebatang rokok lalu menyalakannya. Surga dunia, itulah yang saya rasakan pagi ini. Tidak sia-sia saya bangun lebih pagi.

Saya pikir percuma juga jika pagi ini saya sambut dengan kekesalan, kalau katanya Koes Plus "Buat apa susah, lebih baik kita bergembira".

Sambil menikmati kopi, saya mengambil hp untuk menyalakan aplikasi streaming lagu. Saya adalah orang yang random dalam hal mengklasifikasikan jenis lagu dengan situasi yang sedang berlangsung. Di beranda aplikasi, muncul Iwan Fals sebagai penyanyi yang paling sering saya dengarkan, saya memutuskan pagi ini meminta Om Iwan menyanyikan beberapa lagu untuk saya, saya pilih saja untuk memutar secara acak. Lagu pertama yang dimainkan berjudul "Satu-satu".

Khidmat dan syahdu yang saya rasakan, apalagi dalam lirik lagu itu berbicara bahwa "Satu-satu daun jatuh kebumi, satu-satu tunas muda bersemi". Mulai teringat dalam benak saya, hari ini adalah hari diperingatinya "Sumpah Pemuda". Saya membayangkan 91 tahun lalu, kelompok-kelompok pemoeda tengah merumuskan dasar kebhinekaan bangsanya yang pada sebelumnya muncul kelompok-kelompok berbasis kedaerahan.

Sebagai bahan refleksi buat kita semua, buat saya sendiri khususnya. Tidak ada ukuran tertentu yang bisa dinyatakan dalam persamaan dan perbedaan antara pemuda generasi Z, generasi milenial atau apalah dengan generasi pemoeda 1928. Kita hidup dalam zaman yang berbeda, zeitgeist. Yang perlu saya garis bawahi di sini, waktu berjalan dari generasi ke generasi. Pemuda hari ini hendaknya melanjutkan perjuangan nilai-nilai kemanusiaan dari generasi sebelumnya, pastinya dengan caranya sendiri-sendiri.

Cukup berat bukan? Benedict Anderson contohnya, dalam buku Revolusi Pemuda telah menggambarkan bagaimana peran pemuda dalam menyokong revolusi di Indonesia 1944-1946. Pun, di masa-masa selanjutnya pemuda kerap turut andil dalam proses perubahan. Agaknya saya merekomendasikan buku, tulisan Mas Eko Prasetyo yang berjudul "Bangkitlah Gerakan Mahasiswa". kawan-kawan bisa membacanya sebagai teman dalam proses membangun kesadaran sebagai pemuda, khususnya mahasiswa.

Mungkin sampai sini saja cerita saya kali ini, initinya saya tidak terlalu menyesali berkurangnya jam tidur saya pagi ini. Saya masih mempercayai apa yang dikatakan Om Che Guevara, bahwa revolusi tidak lahir dari tempat tidur. Dalam refleksi hari ini, agaknya saya ingin mengajak kawan-kawan membaca dua tulisan Bung Geger, tulisan tahun lalu dan tahun ini yang menggambarkan realitas pemuda khususnya milenial, tentunya pemuda pula yang harus menjawab segala persoalan di dalamnya.

"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda"- Tan Malaka.


***

(MSS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kajian Historis Bandit-bandit di Jawa 1850-1942

Kiat Sukses Membangun Kedai Kopi Milenial ala Kawan Saya

Prakapitalisme di Asia