Nggatheli

Kredit foto: Dokumen Pribadi

Malam ini Sidoarjo masih konsisten dengan hawanya belakangan hari, sumuk katakanlah. Sesekali angin berhembus itupun dari laju kendaraan berat yang nggatheli. Soalnya, selain membawa angin, kendaraan itu membawa getaran dan suara yang cukup membuat orang-orang di warung kopi ini mengernyitkan dahinya menandakan kebisingan sedang memperkosa pendengaran mereka. Tapi tidak masalah juga, toh beberapa orang di warung kopi ini juga nggatheli.

Salah satunya mas-mas yang duduk di samping saya sekarang ini, cukup nggatheli dengan headset yang ia kenakan dan goyangannya yang tanpa ia sadari menggoyang bangku panjang yang sama-sama kami duduki, asu tenan. Ingin sekali rasanya saya cabut headsetnya lalu saya berbicara dekat pada telinganya "Mas, juancok sampean". Sayangnya saya tidak berani se-nggatheli itu. Bayangkan saja, seonggok daging yang duduk di sebelah saya ini posturnya tinggi besar sampai-sampai sempak yang ia kenakan mencuat keluar ketika sedang duduk. Sebagai bonusnya, doi pamer celengan miliknya (if you know what i mean).

Belum cukup sampai disitu, warkop yang sekarang ini sedang saya tempati pun tidak kalah nggatheli. Pastinya pembaca yang budiman sudjatmokong paham kondisi warung kopi yang menyediakan fasilitas televisi. Sayangnya, saya merasa fasilitas ini larinya ke pemborosan listrik malah. Saya amati mata orang-orang yang cangkruk di sini sedang melototi hpnya masing-masing, termasuk saya yang sedang menulis tulisan ini. Bukan orang-orang menonton televisi, yang ada malah televisi sedang menonton kepala-kepala menunduk di depannya, nggatheli.

Dalam keadaan yang memuakkan ini tebersit solusi terbaik menurut saya, mendengarkan musik. Saya rasa musik tetap menjadi pilihan di segala suasana. Bahkan Nietzsche sendiri pernah berkata “Without music, life would be a mistake”. Benar memang kata pak kumis, rasanya hidup akan jadi suatu kesalahan tanpa musik. Mulai saya ambil headset dari sling bag saya. Saya buka Spotify dan mulai memilih lagu yang akan saya dengarkan. Kebetulan beberapa hari terakhir saya lagi demen sama Slipknot, maka saya memutuskan untuk menikmati alunan musik kelam dari band metal asal Amerika yang bakal manggung di Hammersonic Jakarta tahun depan. okeee let's go.

Eh, tapi tunggu dulu. Lagi-lagi situasinya nggatheli, ternyata headset yang saya bawa berbunyi sebelah. Jujur saja, saya tidak bisa menangkap suara apapun dari headset ini dikarenakan kalahnya suara dari headset dengan  ramainya laju kendaraan di jalan. Mau main game ternyata sinyal Wi-Fi juga tidak mendukung. Sontak saya memilih berdiam dan meratapi kesalahan saya dalam memilih warung kopi.

Iseng, saya membuka WhatsApp dan mengamati beberapa ocehan sobat online di statusnya masing-masing. Walhasil saya menemukan salah satu sobat online yang tidak kalah nggathelinya. Hanya karena hari ini diperingatinya "Hari Pahlawan", salah seorang sobat online mengkritik hari ini sebagai hari orang mendadak nasionalis. Nyinyir sekali bagi dia yang mengaku sebagai kaum terpelajar. Padahal Mas Pram pernah bilang "Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan". Hemat saya, sangat tidak adil memberi cap "Mendadak nasionalis" hanya karena beberapa orang memperingati momentum 10 November.

Ah sudahlah, kalau saya terlalu sambat dan ikut nyinyir rasanya akan semakin mengarahkan saya pada perbuatan yang semakin tidak adil. Dari segala perbuatan manusia yang saya amati malam ini, rasanya saya mengingat kata Marcus Wright yang diperankan oleh Sam Worthington dalam film "Terminator: Salvation", dalam film itu dia berkata bahwa "Hal yang membentuk kita sebagai manusia bukanlah sesuatu yang bisa diprogram dan dimasukkan dalam chip, melainkan dari kekuatan hatinya, dan itu yang membedakan manusia dengan mesin". Yang saya sadari: bahwa apapun yang dilakukan manusia hari ini adalah kehendak hatinya, termasuk melakukan hal-hal nggatheli.

Baiklah, saya merasa cukup puas dikerjain keadaan malam ini. Daripada saya bingung mau ngapain, mending saya nonton televisi yang sedari tadi cuma saya lirik-lirik saja sambil menyeruput kopi dan menghisap beberapa rokok.

***

*Tulisan ini saya buat untuk menjawab writing challenge dari Faris Fauzan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kajian Historis Bandit-bandit di Jawa 1850-1942

Kiat Sukses Membangun Kedai Kopi Milenial ala Kawan Saya

Prakapitalisme di Asia