Seni Hidup Crazy Ala Sofyan Sauri



Mari saya perkenalkan kepada sodara-sodara salah satu dedengkot dalam lingkaran pergaulan saya. Sofyan Sauri, nama yang mudah diingat dan cukup pendek disematkan bagi seseorang yang lahir pada era milenial. Pun pelafalan namanya tidak terlalu susah, hampir tidak pernah saya jumpai ada orang yang salah mengeja namanya. Saya memanggilnya dengan sebutan nama belakangnya, Sauri. Tapi, ada pula yang memanggil dengan nama depannya.

Tidak hanya namanya yang mudah diingat, pun dengan tampilan Sauri yang nyentrik dengan khas rambut gondrong bergelombang yang lebih sering diikat daripada diurai. Ditambah lagi pakaian yang ia kenakan setiap harinya, ia tetap konsisten dengan kemeja yang tampak kedodoran dengan mencangklong waist bag berbahan goni pemberian salah seorang kawan kami, Arul (kapan-kapan akan saya ceritakan pula si pendiam tapi mematikan layaknya ular ini). Sauri memang cukup mudah dikenali dari sekian banyak mahasiswa di Fakultas Ilmu Budaya Unej yang sekarang ini dipenuhi mahasiswa dengan style kekinian.

"Crazy!" itulah kata yang sering Sauri ucapkan sebelum disambut dengan tertawanya yang khas. Banyak sekali hal yang sering ia tertawakan walaupun beberapa dari kami tidak tahu apa yang Sauri tertawakan. Jadinya beberapa dari kami bingung: apakah crazy yang ia ucapkan adalah adalah bentuk otokritik? wallahua'lam. Bukan tanpa alasan, seringkali ketika beberapa kawan atau saya sendiri menanyakan apa yang sedang ia tertawakan, tidak ada jawaban muncul darinya yang menunjukkan sesuatu yang lucu. Aneh, tapi itulah Sauri.

Sauri sendiri sering mengklaim bahwa dirinya adalah orang yang ekstrover. Saya yang tidak terlalu paham dengan tipe-tipe kepribadian cukup mengiyakan dan mengamati gerak-geriknya. Benar saja, Sauri terkenal luwes berbicara dengan orang baru. Bahkan, tidak jarang saya jumpai malah Sauri yang memulai obrolan dan dilanjutkan dengan ceritanya yang panjang lebar. Bagi beberapa orang yang baru pertama kali berjumpa dengan Sauri pun memberi respon beragam. Ada yang cuma manggut-manggut sambil mendengarkan ocehannya, ada yang menimpali balik dengan cerita yang tidak kalah serunya, bahkan ada pula yang memberi respon dengan gestur tubuh yang mengisyaratkan bahwa dirinya merasa terganggu atau bahkan malah merasa insecure dengan keberadaan Sauri. Yang terakhir ini saya menjamin dalam hatinya berkata "Jancok wong iki lapo se" atau kalau tidak begitu, mungkin dengan gumam yang tidak kalah ngerinya. Tapi setahu saya, dia tidak masalah dengan apapun tanggapan orang-orang kepadanya, crazy!

Beberapa hal crazy juga kerap ia munculkan pada beberapa momen ketika kami ngopi. Misal, seringkali dia menyanyi dengan suara yang melengking dan keras ketika suasana di sekitar sedang sepi, beberapa momen juga ia kerap merapal puisi spontan tanpa konsep dan naskah yang terdengar erotis dan ngawur. Sontak saja beberapa pasang mata tertuju pada Sauri dengan raut muka terheran-heran. Beberapa kawan kami ketika ngopi pun terlihat malu dengan perbuatan Sauri, crazy!

Bagi beberapa mahasiswa di Fakultas pun saya yakin banyak yang mengenal Sauri. Kalaupun tidak tahu namanya, pasti hafal dengan wajahnya. Lha wong kiprah si gondrong berkumis tipis ini memang tidak bisa diragukan lagi. Ia aktif sebagai pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan, ia juga salah satu penyanyi top yang tergabung dalam UKM Paduan Suara, bahkan ia selalu turut meramaikan event-event yang diadakan di lingkungan kampus. Kalaupun tidak menjadi anggota resmi dalam satu lingkup organisasi, seringkali ia menganggap dirinya sebagai volunteer yang turut berkontribusi dalam suatu kegiatan. Memang crazy pemuda asal Banyuwangi yang satu ini. Tidak heran jika di setiap tempat seringkali banyak yang menyapanya, bahkan ia pernah bercerita kepada saya bahwa dengan gayanya seperti ini dia akhirnya mempunyai banyak teman, sebut saja relasi.

Tapi inilah Sauri dengan segala ke-urakannya. Dia adalah pemuda yang asik dijadikan sebagai kawan diskusi dan kawan ngopi. Banyak hal yang bisa dibicarakan dengannya, mulai dari hal yang bersifat erotis sampai hal yang sifatnya sangat teologis. Bayangkan saja, ia kerap bercerita fantasi-fantasi nakalnya yang tidak saya ketahui darimana ia dapatkan. Begitu pula dalam membahas hal yang sifatnya teologis, uniknya referensi seabrek ia hidangkan pada saya. Tapi yang saya ingat, Sauri adalah Sauri dengan segala keluguannya. Sangat lugu bagi saya ketika dia berbicara "Meskipun omongan saya seperti ini, ini cuma sebatas teori, tidak akan saya praktikkan" begitu kira-kira ucapnya pada saya pasca ia bercerita soal selangkangan.

Ah mungkin sampai disini saja saya menceritakanmu pada pembaca blog ini Sau. Mungkin suatu saat nanti bukan hanya menceritakan kegilaanmu saja, tapi kegilaan kita bersama. Tetaplah pada jalan ninjamu, menjadi manusia merdeka tapi tetap dalam prinsipmu yang apa adanya, eh kok jadi ceramah saya.

Salam, yomaaan!

"Yang penting jadi diri sendiri dan jujur atas itu"- Muhammad Isrofil a.k.a Mike Marjinal

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kajian Historis Bandit-bandit di Jawa 1850-1942

Kiat Sukses Membangun Kedai Kopi Milenial ala Kawan Saya

Prakapitalisme di Asia